treninetwork.com

Saturday, January 26, 2013

Lahirnya HMI dan kondisi HMI masa sekarang



BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
            Kondisi bangsa yang sedang berada di ambang kehancuran, serta butanya para generasi muda  terhadap pengetahuan agama pada saat itu, serta para komunis yang terus menerus menyesatkan ummat islam di Indonesia membuat seorang anak muda yang bernama Lafran Pane bertekad melahirkan sebuah organisasi yang dapat mewadahi seluruh generasi bangsa agar mereka terselamatkan dari jurang kehancuran, maka diberilah nama organisasi tersebut Himpunan Mahasiswa Islam atau lebih di kenal dengan singkatan (HMI).
            Sebuah cita-cita yang sangat mulia tentunya, mengingat adanya kesadaran pemuda untuk merubah kondisi bangsa yang sedang terpuruk.  Keislaman dan Independensi  merupakan icon besar yang di pajang oleh Lafran Pane di pintu gerbang HMI, dan hal itu bukanlah hanya fikti belaka yang beliau ucapkan, akan tetapi be
liau realisasikan dalam kehidupan nyata, terbukti ketika beliau menolak untuk menjadi pejabat pemerintah bahkan beliau di iming-imingi dengan sebuah jabatan besar yaitu Dewan Pertimbangan Agung, namun hal itu tidak dapat menggoyahkan independensi beliau sebagai pendiri HMI, beliau takut kalau beliau menerima jabatan itu generasi selanjutyan akan salah arah membawa bahtera HMI ini, karena jelas keberadaan HMI bak berada di tengah lautan yang besar yang setiap detiknya dapat terombang-ambing oleh ombak yang besar pula, namun pada akhirnya meskipun beliau menerima jabatan tersebut namun beliau tidak mau dirinya menjadi perwakilan dari partai-partai yang ada, sehingga pada saat itu beliau merupakan satu-satunya Dewan Pertimbangan Agung yang berasal dari organisasi mahasiswa.
            Seiring berjalannya waktu generasi yang ditinggalkan oleh Lafran Pane semakin menjurus ke arah partai politik, memangku jabatan strategis di dalam tubuh pemerintahan, serta sebagian diantara mereka menjadi wakil-wakil rakyat baik yang berada di pusat maupun yang berada di tingkat daerah. Apakah itu salah?, kalau pun hal tersebut salah, pertanyaan yang timbul selanjutnya siapa yang harus disalahkan?, Lafran Pane kah selaku pendiri?,Atau keberadaan HMI itu sendiri yang harus disalahkan?, tentu hal tersebut bukan kesalah dari Lafran Pane selaku pendiri atau bukan juga kesalahan dari HMI itu sendiri karena keberadaannya, akan tetapi hal tersebut tidaklah salah ketika para generasi HMI yang berada didalam struktur pemerintahan mampu memberikan konstribusi yang baik terhadap kemajuan bangsa, karena hal ini juga yang menjadi cita-cita dari keberadaan HMI itu sendiri. Namun ketika mereka melakukan kesalahan, pendiri tidak pernah salah, HMI tidak pernah salah, akan tetapi kesalahan tersebut mutlak milik individual.

B.     RUMUSAN MASALAH
-          Bagaiman proses lahirnya HMI di negeri ini ?
-          Bagaimana kondisi HMI di masa sekarang ?

C.    TUJUAN PENULISAN
            Keberadaan HMI tentu menjadi semangat tersendiri bagi sebagian orang dalam mengarungi pahit getir nya medan perjuangan, namun juga keberadaan HMI dapat menjadi hal yang paling menakutkan bagi kalangan-kalangan yang membenci hakikat dari kebenaran karena HMI adalah organisasi yang sangar menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran serta indenpendensi.
            Dari sisi inilah saya selaku penulis makalah mencoba untuk menuliskan torehan-torehan yang pernah di raih HMI serta peran dari kader HMI dalam perkembangan bangsa menuju kea rah yang lebih baik. Dan jugan bahan renungan bagi para kader penerus agar jangan hanya bisa menjadikan capaian orang-orang pendahulu kita sebagai ajang membanggakan diri, akan tetapi ketika amanah itu dititipkan kepada kita, bukan membuatnya semakin Berjaya malah kita membuatnya semakin terpuruk dan lenyap di telan masa. wallahu a’lam bisswab.


BAB II
PEMBAHASAN

A.    SEJARAH LAHIRNYA HMI
Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) didirikan Lafran Pane pada tahun 1947 dengan dasar keprihatinan atas kondisi umat Islam yang terpecah ke berbagai aliran keagamaan dan politik, serta terjebak dalam kebodohan dan kemiskinan. Saat itu, umat Islam di Indonesia terbagi dalam tiga golongan, yaitu golongan alim ulama yang menjalankan agama sesuai ajaran Nabi, golongan alim ulama yang terpengaruh mistik serta golongan yang berusaha menyesuaikan ajaran Islam dengan kehidupan nyata bangsa Indonesia. Golongan ketiga merupakan kelompok terkecil karena menurut Pane, saat itu agama Islam belum dipelajari secara mendalam. Selain itu, pendidikan dan mahasiswa juga dipengaruhi unsur dan sistem pendidikan Barat yang mengarah pada sekularisme.[1][1]
Untuk menuntaskan permasalahan itu, perlu ada suatu organisasi yang mewadahi mahasiswa (Islam) sebagai insan akademik bernafaskan Islam untuk menciptakan masyarakat yang adil dan makmur. Penegasan HMI sebagai gerakan intelektual tertuang dalam Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga HMI yang bertujuan, menjadikan kadernya (mahasiswa Islam) sebagai insan akademis dan pengabdi yang mendorong cita-cita untuk mewujudkan kehidupan masyarakat yang adil dan makmur dalam ridho Allah SWT.[2][2] Pertentangan pada awal pendirian HMI yang menganggap Lafran Pane memecah belah mahasiswa ditanggapi Pane dengan mendatangkan penceramah untuk menyadarkan mahasiswa akan perlunya gagasan meningkatkan kesadaran ideologi, politik dan organisasi kepada mahasiswa Islam. Gerakan intelektual yang dilakukan HMI berfungsi merumuskan strategi- strategi yang diperlukan dalam berbagai aspek kehidupan
Walaupun HMI bernafaskan Islam, ia tidak berniat mendirikan negara Islam. Sejak awal pendiriannya pun HMI tidak menolak Pancasila, bahkan HMI bertekad mewujudkan nilai-nilai Pancasila di dalam kegiatannya. Hal ini disebabkan HMI memiliki komitmen kebangsaan yang tinggi serta Islam dan Pancasila tidak pernah dipertentangkan karena belum adanya larangan untuk menggunakan Islam sebagai dasar organisasi. Trikomitmennya yang terkenal, ”keislaman, keindonesiaan, kemahasiswaan” membuat HMI tidak terjebak pada fanatisme agama secara sempit namun juga menanamkan nilai nasionalisme pada tiap kadernya. Pada awal pendiriannya, HMI juga merupakan satu-satunya organisasi mahasiswa yang independen saat itu, yang melakukan perannya sebagai organisasi kader dan perjuangan.

1.      Tujuan HMI
Tujuan HMI ketika pertama berdiri :
·         Mempertahankan negara RI dan mempertinggi derajat rakyat indonesia.
        ·         Menegakkan dan mengembangkan ajaran agama Islam
Tujuan HMI saat ini adalah terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terbentuknya masyarakat adil makmur yang diridloi Allah SWT.

2.      Karakteristik HMI
Karakteristik yang sejak awal berdirinya HMI sudah melekat yaitu:
·         Berasaskan Islam ,dan bersumber pada Al Qur'an serta As Sunah
·         Berwawasan keindonesiaan dan kebangsaan
·         Bertujuan, terbinanya lima kualitas insan cita
·         Bersifat independen
·         Berstatus sebagai organisasi mahasiswa
·         Berfungsi sebagai organisasi kader
        ·         Berperan sebagai organisasi perjuangan.
        ·         Bertugas sebagai sumber insansi pembangunan bangsa.
·         Berkedudukan sebagai organisasi modernis.

3.      Tokoh-Tokoh Pemula Hmi
Adapun pemrakarsa/pendiri HMI ada 16 orang, mereka merupakan para generasi muda yang peduli akan kondisi bangsa dan agama pada saat itu. Mereka adalah Lafran Pane, Karnoto Zarkasyi, Dahlan Husein, Maisssaroh Hilal, Suwali, Yusdi Ghozali, Mansyur, Siti Zainah, M. Anwar, Hasan Basri, Marwan, Zulkarnaen, Tayeb Razak, Toha Mashudi dan Badron Hadi.

B.    KONDISI HMI DI MASA SEKARANG
1.      Kondisi HMI di Masa Sekarang
Banyak tudingan yang mengatakan HMI tidak lagi mampu mengembangkan peran yang luas dan terbuka seiring dengan perkembangan dinamika kampus, berbangsa, dan bernegara. Eksistensinya kini dipertanyakan kembali dan dinilai tidak lebih sebagai organisasi pinggiran yang bergerak dengan cara samar-samar. HMI seolah gagal menciptakan apentura-apentura untuk dapat lolos dari jebakan birokrasi dan kekuasaan-melalui kepemimpinan Orde Baru-hingga kini (di kutip dari tulisan syarifuddin Azhar yang dimuat di dalam bataviase.co.id, opini pelita).
Realitas ini cukup menyedihkan, khususnya bagi mereka yang pernah berkiprah dan memiliki romantisme dengan organisasi ekstrauniversiter terbesar itu. Masa kejayaan HMI yang mencapai puncaknya pada tahun 1970-an, tampaknya akan sulit terulang kembali. Bukan saja karena kekuatan HMI yang semakin surut, melainkan juga karena ia tidak lagi menjadi organisasi prestisius yang berprestasi. HMI kini secara bertahap menjadi sesuatu yang asing, bahkan di kalangan mahasiswa Islam sekalipun.[3][18]
Banyak mahasiswa yang sekarang ini menjadi aktivis masjid kampus atau kelompok studi agama enggan bergabung dengan HMI, meskipun mereka memiliki tujuan perjuangan yang sama. Walaupun HMI pernah menjadi besar dan banyak alumninya menjadi "orang besar" dalam pemerintahan, namun latar belakang historis dan segala contoh yang baik dan buruk dari para pendahulunya tampak kurang menjadi pendorong bagi anggota HMI sekarang untuk memacu prestasinya. Hal ini memunculkan penilaian yang agak minus bahwa kader HMI lebih pintar berdebat, sementara dalam karya nyata "nol besar".
Kalau dulu banyak gagasan intelektual yang muncul dari para kadernya mewarnai pemikiran pembaruan Islam di Indonesia, yang mencapai puncaknya pada era 1970-an ketika Nurcholish Madjid-sebagai salah satu contoh yang sangat menonjol ketika itu-melontarkan gagasan mengenai modernisasi dan sekularisasi pemikiran Islam, yang kemudian terkenal dengan ide "Islam Yes, Partai Islam No".
Tantangan zaman yang menjadi kecenderungan perkembangan global sekarang ini menuntut HMI sebagai organisasi kemahasiswaan untuk dapat membaca dan memantau ke arah mana kecenderungan itu berkembang. Dengan demikian, dapat secara tepat merumuskan antisipasi terhadap kecenderungan global tersebut, baik perkembangan makrostruktur politik maupun melalui mikrostruktur programnya.
Barangkali yang juga menjadi penting adalah bagaimana mempersiapkan organisasi HMI untuk selalu berpikir analitis, prediktif, dan visioner agar dapat berkiprah sesuai dinamika kekinian dan tantangan masa mendatang.
2.      Peranan HMI di Masa Sekarang
Takkala kehausan para kader HMI terhadap demokrasi mulai memudar, seperti yang pernah di tunjukkan oleh para pendahulu HMI, akan banyak suara-suara yang bergemuruh yang menyerukan agar HMI kembali ke masa jaya nya yang dulu, bukan tidak beralasan hal yang seperti itu terjadi, karena berjuta-juta rakyat Indonesia dapat merasakan apa yang diperjuangkan oleh HMI di masa dulu, namun ketika hal itu hilang di telan masa di tengan generasi penerusnya tentu menjadi sebuah kekecewaan bagi rakyat sera bagi pendahulu HMI.
Nurcholish Madjid pernah menggugat HMI dengan bahasa, ”Lebih baik HMI dibubarkan!”.[4][19] Kata-kata Cak Nur itu seperti menampar wajah HMI. Tentu saja itu merupakan kritik cukup telak terhadap HMI yang dianggapnya sudah menyimpang dari khitah dan telah kehilangan roh perjuangan. Kita, sebagai kader HMI, punya tanggung jawab dan tugas besar untuk memikirkan hal ini. Bukan saja sebatas wacana, tetapi lebih pada grand planning sebagai sandaran epistemologis untuk bertindak.
Ketua umum PB HMI Noer Fajriyansyah mengatakan bahwa HMI dimasa sekarang seperti serigala ompong yang hanya bias meraung, akan tetapi tidak mampu menggigit mangsanya (di kutip dari jambi ekspres online,opini Noer Fajriansyah ).
Ketika kader-kader HMI berteriak ”tegakkan hukum”, di saat yang sama kader HMI melabrak rambu-rambu hukum. Demikian pula, ketika HMI mengumandangkan ”berantas korupsi”, di saat yang sama banyak kader atau alumni HMI yang terlibat korupsi. Saya tidak bermaksud menguliti HMI dalam arti mencoba menguak borok dan bobrok organisasi yang didirikan Lafran Pane itu kepada publik. Saya juga tidak sedang mengadili HMI yang sudah mengalami kejumudan dalam berpikir dan ber karya. Baik buruknya HMI adalah tanggung jawab kita semua sebagai kader HMI. Apa yang saya ungkapkan ini adalah sebuah kenyataan empiris yang mau tidak mau harus kita sikapi bersama secara baik dan bijaksana sebagai bentuk tanggung jawab dan kecintaan kita terhadap HMI.
Maka mari secara bersama-sama sebagai kader HMI yang mempunyai beban secara moral terhadap perkembangan HMI agar kita dapat mengembalikan kejayaan yang pernah dicapai oleh pendahulu HMI, agar kita tidak hanya bisa terlena dengan apa yang mereka capai, akan tetapi kita juga bisa memberikan yang terbaik untuk HMI seperti apa yang telah mereka berikan kepada HMI, karena kegagalan bukanlah milik orang yang tidak berhasil dalam melakukan sesuatu, akan tetapi kegagalan mutlak milik orang yang tidak pernah berani melakukan apapun untuk perubahan di masa yang akan dating. Berjayalah HMI yakin usaha sampai.

3.      Solusi Untuk Kemajuan HMI di Masa Yang Akan Datang
Bila para anggota HMI ingin menjadikan organisasi HMI menjadi Harapan Masyarakat Indonesia sebagaimana harapan Jenderal Besar Soedirman tentu para anggota HMI mesti kembali meneladani kepahlawanan dan keteladanan Prof. Drs. Lafran Pane selaku pendiri HMI. Kesederhanaan dan ketulusan perjuangan dan pengabdian Prof. Drs. Lafran Pane mestinya menjadi panutan bagi para anggota HMI. Intelektual muslim generasi ketiga yang membesarkan organisasi yang memiliki nama besar tidak saja bagi anggotanya, akan tetapi bagi bangsa Indonesia. Prof. Drs. Lafran Pane benar-benar menjadikan HMI menjadi Harapan Masyarakat Indonesia, tak pernah sekalipun mempergunakan HMI yang didirikan dan dibesarkannya untuk kepentingan pribadi dan kepentingan politiknya.Menjaga Independensi HMI menjadi anak kandung umat dan Harapan Masyarakat Indonesia.
Berkali-kali Prof. Drs. Lafran Pane diminta menjadi pejabat negara, bahkan jabatan Dewan Pertimbangan Agung (DPA) yang ditawarkan kepadanya berkali-kali beliau tolak, karena beliau selaku pendiri HMI merasa khawatir akan berdampak bagi independensi HMI. Bila akhirnya beliau menerima jabatan selaku anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) bukan merupakan perwakilan partai politik manapun tetapi kita mencatat bahwa Prof. Drs. Lafran Pane adalah satu-satunya anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) yang merupakan wakil dari organisasi mahasiswa yaitu wakil Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Dalam suasana bangsa Indonesia yang tengah berduka ditimpa oleh berbagai bencana patutlah bagi HMI untuk menggelar perhelatan akbarnya dalam suasana yang sederhana diliputi oleh semangat generasi muda yang peduli pada bangsanya serta jiwa-jiwa kepahlawanan bangsa Indonesia terutama kepahlawanan dan keteladanan pendiri HMI Prof. Drs. Lafran Pane.
HMI harus mampu mendiskripsikan lagi perjalanan organisasinya untuk dapat meningkatkan keunggulan komparatif sumber daya manusia (SDM) yang dimilikinya. Tentu saja, SDM sebagai khazanah intelektual yang dimilikinya itu tidak akan dapat dikembangkan oleh HMI bila organisasi ini tercabut akarnya dari kampus sebagai basis kekuatan intelektualitasnya. Dalam konteks ini, hemat kita, HMI sekarang harus berupaya keras merebut kembali tradisi intelektual yang pernah dimilikinya pada era 1960-an hingga awal 1970-an. Prinsip kembali ke kampus (back to campus) harus dipupuk melalui berbagai format aktivitas kemahasiswaan. Dalam hal ini orientasi kualitas harus dikedepankan daripada kuantitas.
Keberhasilan dalam perumusan kembali atau reorientasi tujuan jangka panjang organisasi HMI dapat terwujud jika HMI memiliki kemampuan dalam memahami, menguasai, dan mengarahkan potensi kekuatan yang selama ini pernah dimiliki HMI, yakni konsistensi-integralitas wawasan keislaman-kebangsaan, tradisi intelektual, dan independensinya. Untuk mencapai tujuan besar yang dicita-citakan organisasi HMI, barangkali perlu dikaji kembali lebih jauh kemungkinan HMI dapat memosisikan dirinya sebagai lembaga pendidikan nonformal, tempat menempa anggotanya menjadi insan akademis yang berkualitas di tengah umat dan bangsanya.
Dengan demikian, program kegiatan HMI tidak lagi masif, yang penuh dengan seremonial. Sebab, posisinya akan menjadi inner power atau kekuatan intelektual ummat Islam. Dengan kata lain, HMI akan menjadi semacam pusat unggulan (center of excellence) dan bukan hanya merupakan centerpiece (perhiasan di tengah meja). Dengan orientasi keislaman dan kekuatan intelektual, maka secara operatif akan lahir kader HMI yang dinamis, terbuka, dan demokratis, serta hanya tunduk pada kebenaran dari mana pun datangnya. Di sisi lain, semangat untuk mengimplementasikan fungsi kekhalifahan mengharuskan HMI bersifat inklusif dengan tetap mempertegas independensi organisasi.
Independensi HMI yang selama ini telah teruji keberadaannya dan semboyan juangnya sebagai "pemersatu umat dan bangsa" jangan sampai kendur. Artinya, meski harus menyatu dan menjadi salah satu faktor dalam membangun dinamika umat dan bangsa, jati diri dan wawasan keumatan serta kebangsaannya tidak larut dan terseret ke dalam "sektarianisme" baru




BAB III
PENUTUP

A.      KESIMPULAN
Dari awal mula didirikan, HMI sudah memiliki peranan penting bagi bangsa dan ummat hal ini di buktikan dari tidak pernah absennya HMI dalam setiap pergerakan anak bangsa dalam mewujudkan kemajuan bagi bangsa ini.
Diawali pada masa orde lama di bawah naungan Presiden Soekarno yang pernah meminta HMI menjadi bagian dari pengawal keamanan Negara, serta Soekarno pulalah yang pernah berniat untuk membubarkan HMI karena sikap HMI yang tidak bisa menerima sikapnya yang terlalu mengarah ke arah sekulerisme.
Dilanjutkan pada masa orde baru dibawah naungan Presiden Soeharto, yang mana HMI mengalami blunder secara internal yang di sebabkan oleh kebijakan pemerintah Soeharto yang menerapkan sistem azas tunggal yaitu pancasila bagi seluruh ormas, maka terbentuklah dualism HMI yaitu HMI-DIPO dan HMI-MPO yang kedua saling berseberangan, bahkan hingga sekarang azas HMI telah kembali berubah seperti semula sebagaimana awalnya sebelum terjadi perpecahan internal, namun keduanya tidak juga mampu bersatu kembali hingga sekarang, mungkin Allah lah kelak yang akan menyatukan keduanya.
Kemudian pada era reformasi dibawah naungan presiden Habibie, kedua HMI tersebut kembali berseberangan dalam menilik pemerintah Habibie, yang DIPO mendukung pemerintahan Habibie sedangkan yang MPO jelas-jelas menolak Habibie karena menganggap Habibie adalah antek-antek dari pada rezim Soeharto.
Pada era Gusdur hingga sekarang hal diatas kembali di oertontonkan oleh HMI, namun kali ini keterbalikannya, giliran DIPO yang tidak mendukung pemerinthan Gusdur namun MPO lah yang mendukung Gusdur.
Lain lagi dengan generasi penerus HMI dimasa sekarang, yang mulai melupakan tujuan didirikannya HMI mereka bergerak tanpa batas, sehingga HMI yang mulia bersih tanpa noda ini yang harus menaggung dosa yang mereke perbuat. Terlena dengan pencapaian yang pernah dicapai oleh alumni sehingga tidak mampu memberikan konstribusi yang besar bagi perkembangan HMI di masa sekarang.
Berilah perubahan kepada HMI wahai kader semua, ingat lah pendahulu kita yang pernah mendirikan HMI dengan cucuran keringat serta dengan air mata darah, tegakah kita mengkhianati perjuangan mereka, HMI adalah organisasi mulia yang tujuannya ikhlas lillahi ta’ala, jangan biarkan kita sendiri yang merusak HMI.
B.      SARAN-SARAN
Sejarah panjang yang pernah dilalui HMI adalah bahan renungan bagi seluruh generasi penerus, apakah di tangan kita HMI akan semakin Berjaya ataukah kita akan mengkhianati amanah dari pendahulu kita dengan membiarkan HMI lenyap di telan masa. Kita lah yang harus melakukan sesuatu agar HMI kembali berjaya.
Menelaah kembali peran dan fungsi kelahiran HMI yang merupakan organisasi tertua di Indonesia merupakan hal penting sebagai bahan instrospeksi diri bagi seluruh generasi penerus, jangan sampai generasi penerus hanya bisa terlena dengan pencapaian yang telah di capai oleh pendahulu HMI akan tetapi tidak mampu memberikan konstribusi besar yang dapat membangun dan member perkembangan bagi HMI serta bagi ummat dan bangsa.
Sejarah masa lalu harus dijadikan cermin sekaligus otokritik pada masa kini. Dengan demikian, kita bisa menjadikan sejarah sebagai alat untuk melakukan dialog dan analisis. Apa pentingnya HMI punya sejarah emas kalau kenyataannya hari ini lembaran sejarah itu hanya sebagai pengantar di forum-forum diskusi belaka.
Maka timbul sebuah harapan  yang menjadi tugas kita bersama sebagai kader HMI untuk mengembalikan HMI ke masa kejayaannya, sebagaimana yang di amanatkan dalam konstitusi BAB II Pasal 4 yaitu “ terbinanya insane akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan islam dan bertanggung jawab atas terciptanya masyarakat adil dan makmur yang di ridhai oleh Allah SWT. “ BERJAYALAH HMI, YAKIN USAHA SAMPAI


DAFTAR PUSTAKA

KAHMI Jawa Timur, Orde Baru dan Visi Masa Depan “sebuah renungan untuk generasi     penerus “  Jawa Timur: teknika desing & printing, cetakan 1997
Munafrizal,  Manan.  Gerakan Rakyat Melawan Elite, Yogyakarta : Resist Book, Cetakan Pertama,  2005
Sitompul, Agussalim.  Pemikiran HMI dan Relevansinya dengan Sejarah Perjuangan Bangsa Indonesia,  Jakarta : Integrita Press, 1997
Rusli, M. Karim.  HMI MPO Dalam pergulatan politik di Indonesia, Bandung:  Mizan, 1997
Saleh Hasanuddin M. HMI dan Rekayasa Azas Tunggal Pancasila, Yogyakarta ; kelompok studi lingkaran, 1996
Sitompul, Agussalim. Indikator Kemunduran HMI, Jakarta: Misaka galiza, 2005
Aritonang Diro, runtuhnya rezim soeharto, Pustaka hidayah, Bandung 1999
Antonie C.A. Dake, Soekarno File berkas-berkas Soekarno 1965-1967 ”kronologi suatu keruntuhan”, Jakarta: Aksara Taruna,  2005
Victor M.Fic pengantar John O Sutter. Kudeta 1 oktober 1965 “ sebuah studi tentang konspirasi “, Jakarta: Buku Obor Indonesia, 2005



[1][1] . Sitompul, Agussalim. Pemikiran HMI dan Relevansinya dengan Sejarah Perjuangan Bangsa Indonesia,  Jakarta : Integrita Press, 1997
[2][2] . Makmur Nasution. HMI sebagai Gerakan Intelektual, 2006 Diakses dari www.hmikomtpub.or.id,                                                 
[3][3] . Agussalim Sitompul, Indikator Kemunduran HMI. Jakarta: Misaka galiza, 2005

[4][4] . Dikutip dari http://www.jambiekspres.co.id/index.php/opini/18306-runtuhnya-tradisi-pemikiran-hmi.html

No comments:

Post a Comment