BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Kondisi bangsa
yang sedang berada di ambang kehancuran, serta butanya para generasi muda terhadap pengetahuan agama pada saat itu,
serta para komunis yang terus menerus menyesatkan ummat islam di Indonesia
membuat seorang anak muda yang bernama Lafran Pane bertekad melahirkan sebuah
organisasi yang dapat mewadahi seluruh generasi bangsa agar mereka terselamatkan
dari jurang kehancuran, maka diberilah nama organisasi tersebut Himpunan
Mahasiswa Islam atau lebih di kenal dengan singkatan (HMI).
Sebuah cita-cita
yang sangat mulia tentunya, mengingat adanya kesadaran pemuda untuk merubah
kondisi bangsa yang sedang terpuruk.
Keislaman dan Independensi
merupakan icon besar yang di pajang oleh Lafran Pane di pintu gerbang
HMI, dan hal itu bukanlah hanya fikti belaka yang beliau ucapkan, akan tetapi
be
liau realisasikan dalam kehidupan nyata, terbukti ketika beliau
menolak untuk menjadi pejabat pemerintah bahkan beliau di iming-imingi dengan
sebuah jabatan besar yaitu Dewan Pertimbangan Agung, namun hal itu tidak dapat
menggoyahkan independensi beliau sebagai pendiri HMI, beliau takut kalau beliau
menerima jabatan itu generasi selanjutyan akan salah arah membawa bahtera HMI
ini, karena jelas keberadaan HMI bak berada di tengah lautan yang besar yang
setiap detiknya dapat terombang-ambing oleh ombak yang besar pula, namun pada
akhirnya meskipun beliau menerima jabatan tersebut namun beliau tidak mau
dirinya menjadi perwakilan dari partai-partai yang ada, sehingga pada saat itu
beliau merupakan satu-satunya Dewan Pertimbangan Agung yang berasal dari
organisasi mahasiswa.
Seiring
berjalannya waktu generasi yang ditinggalkan oleh Lafran Pane semakin menjurus
ke arah partai politik, memangku jabatan strategis di dalam tubuh pemerintahan,
serta sebagian diantara mereka menjadi wakil-wakil rakyat baik yang berada di
pusat maupun yang berada di tingkat daerah. Apakah itu salah?, kalau pun hal
tersebut salah, pertanyaan yang timbul selanjutnya siapa yang harus
disalahkan?, Lafran Pane kah selaku pendiri?,Atau keberadaan HMI itu sendiri
yang harus disalahkan?, tentu hal tersebut bukan kesalah dari Lafran Pane
selaku pendiri atau bukan juga kesalahan dari HMI itu sendiri karena
keberadaannya, akan tetapi hal tersebut tidaklah salah ketika para generasi HMI
yang berada didalam struktur pemerintahan mampu memberikan konstribusi yang
baik terhadap kemajuan bangsa, karena hal ini juga yang menjadi cita-cita dari
keberadaan HMI itu sendiri. Namun ketika mereka melakukan kesalahan, pendiri
tidak pernah salah, HMI tidak pernah salah, akan tetapi kesalahan tersebut
mutlak milik individual.
B. RUMUSAN MASALAH
- Bagaiman proses lahirnya
HMI di negeri ini ?
- Bagaimana kondisi HMI di
masa sekarang ?
C. TUJUAN PENULISAN
Keberadaan HMI tentu menjadi semangat tersendiri bagi sebagian
orang dalam mengarungi pahit getir nya medan perjuangan, namun juga keberadaan HMI
dapat menjadi hal yang paling menakutkan bagi kalangan-kalangan yang membenci
hakikat dari kebenaran karena HMI adalah organisasi yang sangar menjunjung
tinggi nilai-nilai kebenaran serta indenpendensi.
Dari sisi inilah
saya selaku penulis makalah mencoba untuk menuliskan torehan-torehan yang
pernah di raih HMI serta peran dari kader HMI dalam perkembangan bangsa menuju
kea rah yang lebih baik. Dan jugan bahan renungan bagi para kader penerus agar
jangan hanya bisa menjadikan capaian orang-orang pendahulu kita sebagai ajang
membanggakan diri, akan tetapi ketika amanah itu dititipkan kepada kita, bukan
membuatnya semakin Berjaya malah kita membuatnya semakin terpuruk dan lenyap di
telan masa. wallahu a’lam bisswab.
BAB II
PEMBAHASAN
A. SEJARAH LAHIRNYA HMI
Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) didirikan Lafran
Pane pada tahun 1947 dengan dasar keprihatinan atas kondisi umat Islam yang
terpecah ke berbagai aliran keagamaan dan politik, serta terjebak dalam
kebodohan dan kemiskinan. Saat itu, umat Islam di Indonesia terbagi dalam tiga
golongan, yaitu golongan alim ulama yang menjalankan agama sesuai ajaran Nabi,
golongan alim ulama yang terpengaruh mistik serta golongan yang berusaha
menyesuaikan ajaran Islam dengan kehidupan nyata bangsa Indonesia. Golongan
ketiga merupakan kelompok terkecil karena menurut Pane, saat itu agama Islam
belum dipelajari secara mendalam. Selain itu, pendidikan dan mahasiswa juga
dipengaruhi unsur dan sistem pendidikan Barat yang mengarah pada sekularisme.[1][1]
Untuk menuntaskan permasalahan itu, perlu ada
suatu organisasi yang mewadahi mahasiswa (Islam) sebagai insan akademik
bernafaskan Islam untuk menciptakan masyarakat yang adil dan makmur. Penegasan
HMI sebagai gerakan intelektual tertuang dalam Anggaran Dasar/Anggaran Rumah
Tangga HMI yang bertujuan, menjadikan kadernya (mahasiswa Islam) sebagai insan
akademis dan pengabdi yang mendorong cita-cita untuk mewujudkan kehidupan
masyarakat yang adil dan makmur dalam ridho Allah SWT.[2][2] Pertentangan pada awal pendirian HMI
yang menganggap Lafran Pane memecah belah mahasiswa ditanggapi Pane dengan
mendatangkan penceramah untuk menyadarkan mahasiswa akan perlunya gagasan
meningkatkan kesadaran ideologi, politik dan organisasi kepada mahasiswa Islam.
Gerakan intelektual yang dilakukan HMI berfungsi merumuskan strategi- strategi
yang diperlukan dalam berbagai aspek kehidupan
Walaupun HMI bernafaskan Islam, ia tidak berniat
mendirikan negara Islam. Sejak awal pendiriannya pun HMI tidak menolak
Pancasila, bahkan HMI bertekad mewujudkan nilai-nilai Pancasila di dalam
kegiatannya. Hal ini disebabkan HMI memiliki komitmen kebangsaan yang tinggi
serta Islam dan Pancasila tidak pernah dipertentangkan karena belum adanya
larangan untuk menggunakan Islam sebagai dasar organisasi. Trikomitmennya yang
terkenal, ”keislaman, keindonesiaan, kemahasiswaan” membuat HMI tidak terjebak
pada fanatisme agama secara sempit namun juga menanamkan nilai nasionalisme
pada tiap kadernya. Pada awal pendiriannya, HMI juga merupakan satu-satunya
organisasi mahasiswa yang independen saat itu, yang melakukan perannya sebagai
organisasi kader dan perjuangan.
1. Tujuan
HMI
Tujuan HMI ketika pertama berdiri :
·
Mempertahankan negara RI dan
mempertinggi derajat rakyat indonesia.
·
Menegakkan dan mengembangkan ajaran
agama Islam
Tujuan HMI saat ini adalah
terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam dan
bertanggung jawab atas terbentuknya masyarakat adil makmur yang diridloi Allah
SWT.
2. Karakteristik
HMI
Karakteristik
yang sejak awal berdirinya HMI sudah melekat yaitu:
·
Berasaskan Islam ,dan bersumber pada
Al Qur'an serta As Sunah
·
Berwawasan keindonesiaan dan
kebangsaan
·
Bertujuan, terbinanya lima kualitas
insan cita
·
Bersifat independen
·
Berstatus sebagai organisasi
mahasiswa
·
Berfungsi sebagai organisasi kader
·
Berperan sebagai organisasi
perjuangan.
·
Bertugas sebagai sumber insansi
pembangunan bangsa.
·
Berkedudukan sebagai organisasi
modernis.
3. Tokoh-Tokoh Pemula Hmi
Adapun
pemrakarsa/pendiri HMI ada 16 orang, mereka merupakan para generasi muda yang
peduli akan kondisi bangsa dan agama pada saat itu. Mereka adalah Lafran Pane, Karnoto Zarkasyi, Dahlan
Husein, Maisssaroh Hilal, Suwali, Yusdi Ghozali, Mansyur, Siti Zainah, M.
Anwar, Hasan Basri, Marwan, Zulkarnaen, Tayeb Razak, Toha Mashudi dan Badron
Hadi.
B. KONDISI HMI DI MASA
SEKARANG
1. Kondisi HMI di Masa
Sekarang
Banyak tudingan yang mengatakan HMI tidak lagi mampu
mengembangkan peran yang luas dan terbuka seiring dengan perkembangan dinamika
kampus, berbangsa, dan bernegara. Eksistensinya kini dipertanyakan kembali dan
dinilai tidak lebih sebagai organisasi pinggiran yang bergerak dengan cara samar-samar.
HMI seolah gagal menciptakan apentura-apentura untuk dapat lolos dari jebakan
birokrasi dan kekuasaan-melalui kepemimpinan Orde Baru-hingga kini (di kutip
dari tulisan syarifuddin Azhar yang dimuat di dalam bataviase.co.id, opini
pelita).
Realitas ini cukup menyedihkan, khususnya bagi mereka yang
pernah berkiprah dan memiliki romantisme dengan organisasi ekstrauniversiter
terbesar itu. Masa kejayaan HMI yang mencapai puncaknya pada tahun 1970-an,
tampaknya akan sulit terulang kembali. Bukan saja karena kekuatan HMI yang
semakin surut, melainkan juga karena ia tidak lagi menjadi organisasi
prestisius yang berprestasi. HMI kini secara bertahap menjadi sesuatu yang
asing, bahkan di kalangan mahasiswa Islam sekalipun.[3][18]
Banyak mahasiswa yang sekarang ini menjadi aktivis masjid
kampus atau kelompok studi agama enggan bergabung dengan HMI, meskipun mereka
memiliki tujuan perjuangan yang sama. Walaupun HMI pernah menjadi besar dan
banyak alumninya menjadi "orang besar" dalam pemerintahan, namun
latar belakang historis dan segala contoh yang baik dan buruk dari para
pendahulunya tampak kurang menjadi pendorong bagi anggota HMI sekarang untuk
memacu prestasinya. Hal ini memunculkan penilaian yang agak minus bahwa kader
HMI lebih pintar berdebat, sementara dalam karya nyata "nol besar".
Kalau dulu banyak gagasan intelektual yang muncul dari para
kadernya mewarnai pemikiran pembaruan Islam di Indonesia, yang mencapai
puncaknya pada era 1970-an ketika Nurcholish Madjid-sebagai salah satu contoh
yang sangat menonjol ketika itu-melontarkan gagasan mengenai modernisasi dan
sekularisasi pemikiran Islam, yang kemudian terkenal dengan ide "Islam
Yes, Partai Islam No".
Tantangan zaman yang menjadi kecenderungan perkembangan
global sekarang ini menuntut HMI sebagai organisasi kemahasiswaan untuk dapat
membaca dan memantau ke arah mana kecenderungan itu berkembang. Dengan
demikian, dapat secara tepat merumuskan antisipasi terhadap kecenderungan
global tersebut, baik perkembangan makrostruktur politik maupun melalui mikrostruktur
programnya.
Barangkali yang juga menjadi penting adalah bagaimana
mempersiapkan organisasi HMI untuk selalu berpikir analitis, prediktif, dan
visioner agar dapat berkiprah sesuai dinamika kekinian dan tantangan masa
mendatang.
2. Peranan HMI di Masa
Sekarang
Takkala kehausan para kader HMI terhadap
demokrasi mulai memudar, seperti yang pernah di tunjukkan oleh para pendahulu
HMI, akan banyak suara-suara yang bergemuruh yang menyerukan agar HMI kembali
ke masa jaya nya yang dulu, bukan tidak beralasan hal yang seperti itu terjadi,
karena berjuta-juta rakyat Indonesia dapat merasakan apa yang diperjuangkan
oleh HMI di masa dulu, namun ketika hal itu hilang di telan masa di tengan
generasi penerusnya tentu menjadi sebuah kekecewaan bagi rakyat sera bagi
pendahulu HMI.
Nurcholish Madjid pernah menggugat HMI dengan bahasa, ”Lebih
baik HMI dibubarkan!”.[4][19] Kata-kata
Cak Nur itu seperti menampar wajah HMI. Tentu saja itu merupakan kritik cukup
telak terhadap HMI yang dianggapnya sudah menyimpang dari khitah dan telah
kehilangan roh perjuangan. Kita, sebagai kader HMI, punya tanggung jawab dan
tugas besar untuk memikirkan hal ini. Bukan saja sebatas wacana, tetapi lebih
pada grand planning sebagai sandaran epistemologis untuk bertindak.
Ketua umum PB HMI Noer Fajriyansyah mengatakan bahwa HMI
dimasa sekarang seperti serigala ompong yang hanya bias meraung, akan tetapi
tidak mampu menggigit mangsanya (di kutip dari jambi ekspres online,opini Noer
Fajriansyah ).
Ketika kader-kader HMI berteriak ”tegakkan hukum”, di saat
yang sama kader HMI melabrak rambu-rambu hukum. Demikian pula, ketika HMI
mengumandangkan ”berantas korupsi”, di saat yang sama banyak kader atau alumni
HMI yang terlibat korupsi. Saya tidak bermaksud menguliti HMI dalam arti
mencoba menguak borok dan bobrok organisasi yang didirikan Lafran Pane itu
kepada publik. Saya juga tidak sedang mengadili HMI yang sudah mengalami
kejumudan dalam berpikir dan ber karya. Baik buruknya HMI adalah tanggung jawab
kita semua sebagai kader HMI. Apa yang saya ungkapkan ini adalah sebuah
kenyataan empiris yang mau tidak mau harus kita sikapi bersama secara baik dan
bijaksana sebagai bentuk tanggung jawab dan kecintaan kita terhadap HMI.
Maka mari secara bersama-sama sebagai kader HMI yang
mempunyai beban secara moral terhadap perkembangan HMI agar kita dapat
mengembalikan kejayaan yang pernah dicapai oleh pendahulu HMI, agar kita tidak
hanya bisa terlena dengan apa yang mereka capai, akan tetapi kita juga bisa
memberikan yang terbaik untuk HMI seperti apa yang telah mereka berikan kepada
HMI, karena kegagalan bukanlah milik orang yang tidak berhasil dalam melakukan
sesuatu, akan tetapi kegagalan mutlak milik orang yang tidak pernah berani
melakukan apapun untuk perubahan di masa yang akan dating. Berjayalah HMI yakin
usaha sampai.
3. Solusi Untuk Kemajuan
HMI di Masa Yang Akan Datang
Bila para anggota HMI ingin menjadikan
organisasi HMI menjadi Harapan Masyarakat Indonesia sebagaimana harapan
Jenderal Besar Soedirman tentu para anggota HMI mesti kembali meneladani
kepahlawanan dan keteladanan Prof. Drs. Lafran Pane selaku pendiri HMI.
Kesederhanaan dan ketulusan perjuangan dan pengabdian Prof. Drs. Lafran Pane
mestinya menjadi panutan bagi para anggota HMI. Intelektual muslim generasi
ketiga yang membesarkan organisasi yang memiliki nama besar tidak saja bagi
anggotanya, akan tetapi bagi bangsa Indonesia. Prof. Drs. Lafran Pane
benar-benar menjadikan HMI menjadi Harapan Masyarakat Indonesia, tak pernah
sekalipun mempergunakan HMI yang didirikan dan dibesarkannya untuk kepentingan
pribadi dan kepentingan politiknya.Menjaga Independensi HMI
menjadi anak kandung umat dan Harapan Masyarakat Indonesia.
Berkali-kali Prof. Drs. Lafran Pane diminta
menjadi pejabat negara, bahkan jabatan Dewan Pertimbangan Agung (DPA) yang
ditawarkan kepadanya berkali-kali beliau tolak, karena beliau selaku pendiri
HMI merasa khawatir akan berdampak bagi independensi HMI. Bila akhirnya beliau
menerima jabatan selaku anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) bukan merupakan
perwakilan partai politik manapun tetapi kita mencatat bahwa Prof. Drs. Lafran
Pane adalah satu-satunya anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) yang merupakan wakil
dari organisasi mahasiswa yaitu wakil Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Dalam
suasana bangsa Indonesia yang tengah berduka ditimpa oleh berbagai bencana
patutlah bagi HMI untuk menggelar perhelatan akbarnya dalam suasana yang
sederhana diliputi oleh semangat generasi muda yang peduli pada bangsanya serta
jiwa-jiwa kepahlawanan bangsa Indonesia terutama kepahlawanan dan keteladanan
pendiri HMI Prof. Drs. Lafran Pane.
HMI harus mampu mendiskripsikan lagi perjalanan
organisasinya untuk dapat meningkatkan keunggulan komparatif sumber daya
manusia (SDM) yang dimilikinya. Tentu saja, SDM sebagai khazanah intelektual
yang dimilikinya itu tidak akan dapat dikembangkan oleh HMI bila organisasi ini
tercabut akarnya dari kampus sebagai basis kekuatan intelektualitasnya. Dalam
konteks ini, hemat kita, HMI sekarang harus berupaya keras merebut kembali
tradisi intelektual yang pernah dimilikinya pada era 1960-an hingga awal
1970-an. Prinsip kembali ke kampus (back to campus) harus dipupuk melalui
berbagai format aktivitas kemahasiswaan. Dalam hal ini orientasi kualitas harus
dikedepankan daripada kuantitas.
Keberhasilan dalam perumusan kembali atau reorientasi tujuan
jangka panjang organisasi HMI dapat terwujud jika HMI memiliki kemampuan dalam
memahami, menguasai, dan mengarahkan potensi kekuatan yang selama ini pernah
dimiliki HMI, yakni konsistensi-integralitas wawasan keislaman-kebangsaan,
tradisi intelektual, dan independensinya. Untuk mencapai tujuan besar yang
dicita-citakan organisasi HMI, barangkali perlu dikaji kembali lebih jauh
kemungkinan HMI dapat memosisikan dirinya sebagai lembaga pendidikan nonformal,
tempat menempa anggotanya menjadi insan akademis yang berkualitas di tengah
umat dan bangsanya.
Dengan demikian, program kegiatan HMI tidak lagi masif, yang
penuh dengan seremonial. Sebab, posisinya akan menjadi inner
power atau kekuatan intelektual ummat Islam. Dengan kata lain, HMI akan
menjadi semacam pusat unggulan (center of excellence) dan bukan hanya
merupakan centerpiece (perhiasan di tengah meja). Dengan orientasi
keislaman dan kekuatan intelektual, maka secara operatif akan lahir kader HMI
yang dinamis, terbuka, dan demokratis, serta hanya tunduk pada kebenaran dari
mana pun datangnya. Di sisi lain, semangat untuk mengimplementasikan fungsi
kekhalifahan mengharuskan HMI bersifat inklusif dengan tetap mempertegas
independensi organisasi.
Independensi HMI yang selama ini telah teruji keberadaannya
dan semboyan juangnya sebagai "pemersatu umat dan bangsa" jangan
sampai kendur. Artinya, meski harus menyatu dan menjadi salah satu faktor dalam
membangun dinamika umat dan bangsa, jati diri dan wawasan keumatan serta
kebangsaannya tidak larut dan terseret ke dalam "sektarianisme" baru
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Dari awal mula didirikan, HMI sudah memiliki peranan penting
bagi bangsa dan ummat hal ini di buktikan dari tidak pernah absennya HMI dalam
setiap pergerakan anak bangsa dalam mewujudkan kemajuan bagi bangsa ini.
Diawali pada masa orde lama di bawah naungan Presiden
Soekarno yang pernah meminta HMI menjadi bagian dari pengawal keamanan Negara,
serta Soekarno pulalah yang pernah berniat untuk membubarkan HMI karena sikap
HMI yang tidak bisa menerima sikapnya yang terlalu mengarah ke arah
sekulerisme.
Dilanjutkan pada masa orde baru dibawah naungan Presiden
Soeharto, yang mana HMI mengalami blunder secara internal yang di sebabkan oleh
kebijakan pemerintah Soeharto yang menerapkan sistem azas tunggal yaitu
pancasila bagi seluruh ormas, maka terbentuklah dualism HMI yaitu HMI-DIPO dan
HMI-MPO yang kedua saling berseberangan, bahkan hingga sekarang azas HMI telah
kembali berubah seperti semula sebagaimana awalnya sebelum terjadi perpecahan
internal, namun keduanya tidak juga mampu bersatu kembali hingga sekarang,
mungkin Allah lah kelak yang akan menyatukan keduanya.
Kemudian pada era reformasi dibawah naungan presiden
Habibie, kedua HMI tersebut kembali berseberangan dalam menilik pemerintah
Habibie, yang DIPO mendukung pemerintahan Habibie sedangkan yang MPO
jelas-jelas menolak Habibie karena menganggap Habibie adalah antek-antek dari
pada rezim Soeharto.
Pada era Gusdur hingga sekarang hal diatas kembali di
oertontonkan oleh HMI, namun kali ini keterbalikannya, giliran DIPO yang tidak
mendukung pemerinthan Gusdur namun MPO lah yang mendukung Gusdur.
Lain lagi dengan generasi penerus HMI dimasa sekarang, yang
mulai melupakan tujuan didirikannya HMI mereka bergerak tanpa batas, sehingga
HMI yang mulia bersih tanpa noda ini yang harus menaggung dosa yang mereke
perbuat. Terlena dengan pencapaian yang pernah dicapai oleh alumni sehingga
tidak mampu memberikan konstribusi yang besar bagi perkembangan HMI di masa
sekarang.
Berilah perubahan kepada HMI wahai kader semua, ingat lah
pendahulu kita yang pernah mendirikan HMI dengan cucuran keringat serta dengan
air mata darah, tegakah kita mengkhianati perjuangan mereka, HMI adalah
organisasi mulia yang tujuannya ikhlas lillahi ta’ala, jangan biarkan kita
sendiri yang merusak HMI.
B.
SARAN-SARAN
Sejarah panjang yang pernah dilalui HMI adalah
bahan renungan bagi seluruh generasi penerus, apakah di tangan kita HMI akan
semakin Berjaya ataukah kita akan mengkhianati amanah dari pendahulu kita
dengan membiarkan HMI lenyap di telan masa. Kita lah yang harus melakukan
sesuatu agar HMI kembali berjaya.
Menelaah kembali peran dan fungsi kelahiran HMI
yang merupakan organisasi tertua di Indonesia merupakan hal penting sebagai
bahan instrospeksi diri bagi seluruh generasi penerus, jangan sampai generasi
penerus hanya bisa terlena dengan pencapaian yang telah di capai oleh pendahulu
HMI akan tetapi tidak mampu memberikan konstribusi besar yang dapat membangun
dan member perkembangan bagi HMI serta bagi ummat dan bangsa.
Sejarah masa lalu harus dijadikan cermin sekaligus otokritik
pada masa kini. Dengan demikian, kita bisa menjadikan sejarah sebagai alat
untuk melakukan dialog dan analisis. Apa pentingnya HMI punya sejarah emas
kalau kenyataannya hari ini lembaran sejarah itu hanya sebagai pengantar di
forum-forum diskusi belaka.
Maka timbul sebuah harapan yang menjadi tugas kita bersama sebagai kader
HMI untuk mengembalikan HMI ke masa kejayaannya, sebagaimana yang di amanatkan
dalam konstitusi BAB II Pasal 4 yaitu “ terbinanya insane akademis, pencipta,
pengabdi yang bernafaskan islam dan bertanggung jawab atas terciptanya
masyarakat adil dan makmur yang di ridhai oleh Allah SWT. “ BERJAYALAH HMI, YAKIN USAHA SAMPAI”
DAFTAR PUSTAKA
KAHMI Jawa Timur, Orde Baru dan Visi Masa Depan “sebuah renungan untuk generasi penerus “ Jawa Timur: teknika desing & printing,
cetakan 1997
Munafrizal,
Manan. Gerakan Rakyat Melawan Elite, Yogyakarta
: Resist Book, Cetakan Pertama, 2005
Sitompul, Agussalim. Pemikiran HMI dan Relevansinya dengan Sejarah Perjuangan Bangsa
Indonesia, Jakarta : Integrita Press,
1997
Rusli, M. Karim. HMI MPO Dalam pergulatan politik di Indonesia,
Bandung: Mizan, 1997
Saleh Hasanuddin M. HMI
dan Rekayasa Azas Tunggal Pancasila, Yogyakarta ; kelompok studi lingkaran,
1996
Sitompul, Agussalim. Indikator
Kemunduran HMI, Jakarta: Misaka galiza, 2005
Aritonang Diro, runtuhnya
rezim soeharto, Pustaka hidayah, Bandung 1999
Antonie C.A. Dake, Soekarno
File berkas-berkas Soekarno 1965-1967 ”kronologi suatu keruntuhan”, Jakarta: Aksara Taruna, 2005
Victor M.Fic pengantar John O
Sutter. Kudeta 1 oktober 1965 “
sebuah studi tentang konspirasi “, Jakarta:
Buku Obor Indonesia, 2005
. Sitompul,
Agussalim. Pemikiran HMI dan
Relevansinya dengan Sejarah Perjuangan Bangsa Indonesia, Jakarta
: Integrita Press, 1997
. Agussalim
Sitompul, Indikator Kemunduran HMI. Jakarta: Misaka galiza, 2005
. Dikutip dari
http://www.jambiekspres.co.id/index.php/opini/18306-runtuhnya-tradisi-pemikiran-hmi.html