Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan dan potensi akan
sumber daya alam yang melimpah. Sumber daya alam terbagi dua (SDA),
yaitu SDA yang tidak dapat diperbaharui (unrenewable) dan yang dapat diperbaharui (renewable). Sumber daya alam (baik renewable dan non renewable)
merupakan sumberdaya yang esensial bagi kelangsungan hidup manusia.
Hilangnya atau berkurangnya ketersediaan sumber daya tersebut akan
berdampak sangat besar bagi kelangsungan hidup umat manusia di muka
bumi.[1]
Kehidupan manusia terutama kehidupan ekonominya tidak lepas dengan adanya dukungan dari lingkungan dan sumber daya alam. Kebutuhan tersebut baik dalam segi rumah tangga maupun perusahaan diperoleh dari alam, di mana perusahaan akan meningkatkan nilai ekonomi dari sumber daya alam dan lingkungan yang di eksploitasi dalam proses produksinya. Dari hasil produksi tersebut akan ada dua produk yang dihasilkan yang pertama produk konsumsi dan yang kedua sisa hasil produksi. Dan dari sisa kegiatan ekonomi tersebut akhirnya kembali ke alam baik dalam bentuk padat, cair maupun gas.
Kekayaan dan potensi sumberdaya alam dan lingkungan dapat dilihat dari potensi lahan pertanian, air dan udara, hutan, laut dan pesisir serta material tambang. Selama ini berbagai sumber daya tersebut sudah dimanfaatkan, meskipun dalam prakteknya belum dikelola secara optimal sehingga belum mampu memberikan kontribusi dan kemanfaatan yang cukup signifikan bagi pembangunan ekonomi dan peningkatan kualitas kehidupan masyarakat.

Kurva Permintaan
Kurva permintaan dari pandangan ekonomi neo klasik dapat diturunkan dari memaksimalkan kepuasan atau utilitas yang kemudian akan menghasilkan kurva permintaan biasa (ordinary demand curve) atau sering juga disebut sebagai kurva permintaan Marshall. Atau yang kedua dapat diturunkan dari meminimisasikan pengeluaran yang akan menghasilkan kurva permintaan terkompensasi (compensated demand curve) aau kurva permintaan Hicks.
Kurva Penawaran
kurva penawaran dari suatu barang dan jasa menggambarkan kuantitas dari barang (x) yang dapat ditawarkan oleh produsen pada tingkat harga tertentu.
Surplus
Surplus merupakan manfaat ekonomi yang tidak lain adalah selisih antara manfaat kotor (gross benefit) dan biaya yang dikeluarkan masyarakat untuk mengekstraksi SDA. Pendekatan surplus biasa digunakan untuk mengukur manfaat sumber daya alam merupakan pengukuran yang tepat karena pemanfaatan sumber daya dinilai berdasarkan alternative penggunaan terbaiknya.
Eksternalitas dipahami sebagai dampak (positif atau negatif), atau dalam bahasa formal ekonomi sebagai net cost atau benefit, dari tindakan satu pihak terhadap pihak lain. Dapat dijelaskan lebih spesifik bahwa eksternalitas terjadi jika kegiatan produksi atau konsumsi dari satu pihak mempengaruhi kegunaan dari pihak lain secara tidak diinginkan, dan pihak pembuat eksternalitas tidak menyediakan kompensasi terhadap pihak yang terkena dampak.


Ikan merupakan salah satu komoditi yang berperan penting dalam kehidupan manusia. Selain sebagai pemenuhan kebutuhan pangan, sumber pendapatan dan penyerapan tenaga kerja, ikan juga merupakan salah satu produk yang memiliki nilai seremonial yang tinggi. Titik tolak pendekatan ekonomi pengelolaan perikanan bermula dengan publikasi tulisan H.S Gordon (1954) yang menyatakan bahwa sumber daya ikan pada umumnya bersifat open class (siapa saja bisa berpartisipasi tanpa harus memiliki sumber daya tersebut).
Indonesia, wilayah hutan tropisnya terluas ketiga di dunia dengan cadangan minyak, gas alam, emas, tembaga dan mineral lainnya. Terumbu karang dan kehidupan laut memperkaya ke-17.000 pulaunya. Lebih dari itu, Indonesia memiliki tanah dan dan area lautan yang luas, dan kaya dengan berjenis-jenis ekologi. Menempati hampir 1,3 persen dari wilayah bumi, mempunyai kira-kira 10 persen jenis tanaman dan bunga yang ada di dunia, 12 persen jenis binatang menyusui, 17 persen jenis burung, 25 persen jenis ikan, dan 10 persen sisa area hutang tropis, yang kedua setelah Brazil.
Kepulauan Indonesia yang terdiri atas 17,000an pulau, merupakan tempat tinggal bagi flora dan fauna dari dua tipe yang berbeda asal usulnya. Bagian barat merupakan kawasan Indo-Malayan, sedang bagian timur termasuk kawasan Pacifik dan Australia. Meski daratannya hanya mencakup 1,3 persen dari seluruh daratan di bumi, Indonesia memiliki hidupan liar flora dan fauna yang spektakuler dan unik. Indonesia juga memiliki keanekaragaman hayati yang mengagumkan: sepuluh persen dari spesies berbunga yang ada didunia, 12 persen dari spesies mamalia dunia, 16 persen dari seluruh spesies reptil dan amphibi, 17 persen dari seluruh spesies burung, dan 25 persen dari semua spesies ikan yang sudah dikenal manusia.[5]
Sebagian besar hutan yang ada di Indonesia adalah hutan hujan tropis, yang tidak saja mengandung kekayaan hayati flora yang beranekaragam, tetapi juga termasuk ekosistem terkaya di dunia sehubungan dengan keanekaan hidupan liarnya. Indonesia memiliki kawasan hutan hujan tropis yang terbesar di Asia-Pasifik yaitu diperkirakan 1,148,400 kilometer persegi. Hutan Indonesia termasuk yang paling kaya keaneka ragaman hayati di dunia. Hutan Indonesia dikenal sebagai hutan yang paling kaya akan spesies palm (447 spesies, 225 diantaranya tidak terdapat dibagian dunia yang lain), lebih dari 400 spesies dipterocarp (jenis kayu komersial yang paling berharga di Asia tenggara), dan diperkirakan mengandung 25,000 spesies tumbuhan berbunga. Indonesia juga sangat kaya akan hidupan liar: terkaya didunia untuk mamalia (515 spesies, 36% diantaranya endemik), terkaya akan kupu-kupu swalowtail (121 spesies, 44% diantaranya endemik), ketiga terkaya didunia akan reptil (ada lebih dari 600 spesies), keempat terkaya akan burung (1519 spesies, 28% diantaranya endemik) kelima untuk amphibi (270 spesies), dan ketujuh untuk tumbuhan berbunga.[6]
Model Ekonomi SD Air Bawah Tanah
Groundwater jika pada saat sumber daya tersebut tidak dimiliki dengan jelas, ia akan menjadi common pool di mana setiap pengguna sumber daya air meyakini bahwa ekstraksi yang dilakukannya tidak akan mempengaruhi stok sumber daya air, sehingga deplesi dari sumber daya air dinilai tanpa harga (zero price). Walaupun demikian jika hal ini tidak diatur ekstraksi akan terlalu besar sehingga menyebabkan ketersediaan air menurun dan menyebabkan dampak ekonomi dalam 3 hal:[7]
Alokasi air merupakan masalah ekonomi untuk menentukan bagaimana suplai air yang tersedia harus dialokasikan kepada pengguna dan calon pengguna. Pengguna air sendiri pada dasarnya dibagi dalam 2 kelompok:
Pemanfaatan sumber daya alam dan fungsi lingkungannya bukanlah tidak ada masalah. Semakin lama, terjadi penurunan kualitas lingkungan dan sumber daya alam yang ada di Indonesia. Bila di telaah penurunan kualitas lingkungan dan sumber daya alam disebabkan oleh dua faktor yaitu disebakan oleh meningkatnya kebutuhan ekonomi (economic requirement) dan gagalnya kebijakan yang diterapkan (policy failure). Peningkatan kebutuhan yang tak terbatas sering membuat tekanan yang besar terhadap lingkungan dan sumberdaya yang ada, suatu contoh kebutuhan akan ketersediaan kayu yang memaksa kita untuk menebang hutan secara berlebihan dan terjadinya tebang terlarang (illegal loging), kebutuhan transportasi untuk mobilitas dan mendukung laju perekonomian juga sering menimbulkan dampak terhadap kerusakan lingkungan seperti pencemaran udara, dan kejadian dilaut dimana akibat kebutuhan ekonomi memaksa nelayan melakukan kegiatan tangkap berlebih (over fishing). oleh karena itu percepatan pembangunan ekonomi sudah selayaknya di barengi dengan ketersediaan sumber daya dan lingkungan yang lestari.
Bahtiar. R. 2006. Bencana Alam dan Hari Bumi. www. tempointeraktif.com
Fauzi. A. 2004. Ekonomi Sumber Daya Alam dan Lingkungan. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Hartwick, J.M. 1998. The Economics of Natural Resource Use. Addison-Wesley Educational Publisher Inc. Reading, Massachussetts
Muttaqin, Hidayatullah. 2004. Ada Apa denga Pengelolaan Sumber Daya Alam Indonesia. dalam www.jurnal-ekonomi.org.
Nahib, Irmadi. 2006. Pengelolaan Sumber Daya Tidak Pulih Berbasis Ekonomi Sumber Daya (studi Kasus: Tambang Minyak Blok Cepu). dalam Jurnal Ilmiah Geomatika Vol. 12 No. 1 Agustus 2006. Pusat Survey Sumber Daya Alam laut. BAKOSURTANAL.
Neher, P. 1990. Natural Resources Economics: Conservation and Exploitation. Cambridge: Cambridge University Press.
Rudyanto, Arifin. 2004. Kerangka Kerja Sama dalam Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut. Disampaikan pada Sosialisasi Nasional MFCDP, 22 September 2004.
Srijanti, A. Rahman H.I, & Purwanto S.K. 2008. Etika Berwarganegara, Pendidikan Kewarganegaraan untuk Perguruan Tinggi. Jakarta: Penerbit Karya Salemba Empat.
Kehidupan manusia terutama kehidupan ekonominya tidak lepas dengan adanya dukungan dari lingkungan dan sumber daya alam. Kebutuhan tersebut baik dalam segi rumah tangga maupun perusahaan diperoleh dari alam, di mana perusahaan akan meningkatkan nilai ekonomi dari sumber daya alam dan lingkungan yang di eksploitasi dalam proses produksinya. Dari hasil produksi tersebut akan ada dua produk yang dihasilkan yang pertama produk konsumsi dan yang kedua sisa hasil produksi. Dan dari sisa kegiatan ekonomi tersebut akhirnya kembali ke alam baik dalam bentuk padat, cair maupun gas.
Kekayaan dan potensi sumberdaya alam dan lingkungan dapat dilihat dari potensi lahan pertanian, air dan udara, hutan, laut dan pesisir serta material tambang. Selama ini berbagai sumber daya tersebut sudah dimanfaatkan, meskipun dalam prakteknya belum dikelola secara optimal sehingga belum mampu memberikan kontribusi dan kemanfaatan yang cukup signifikan bagi pembangunan ekonomi dan peningkatan kualitas kehidupan masyarakat.
- A. Pembagian Sumber Daya Alam
- Kelompok stok, memiliki cadangan yg terbatas, tidak dapat diperbaharui (non renewable) atau terhabiskan (exhaustible), mis: mineral, logam, minyak, gas bumi.
- Kelompok alur, jumlah kuantitas fisik berubah sepanjang waktu (renewable). Regenerasi yg ada tergantung pd proses biologi (ikan, hutan) dan ada yg tidak (air, siar matahari).
Gambar A.1. Pandangan Terhadap SDA
- B. Fondasi Ekonomi SDA
Kurva Permintaan
Kurva permintaan dari pandangan ekonomi neo klasik dapat diturunkan dari memaksimalkan kepuasan atau utilitas yang kemudian akan menghasilkan kurva permintaan biasa (ordinary demand curve) atau sering juga disebut sebagai kurva permintaan Marshall. Atau yang kedua dapat diturunkan dari meminimisasikan pengeluaran yang akan menghasilkan kurva permintaan terkompensasi (compensated demand curve) aau kurva permintaan Hicks.
Kurva Penawaran
kurva penawaran dari suatu barang dan jasa menggambarkan kuantitas dari barang (x) yang dapat ditawarkan oleh produsen pada tingkat harga tertentu.
Surplus
Surplus merupakan manfaat ekonomi yang tidak lain adalah selisih antara manfaat kotor (gross benefit) dan biaya yang dikeluarkan masyarakat untuk mengekstraksi SDA. Pendekatan surplus biasa digunakan untuk mengukur manfaat sumber daya alam merupakan pengukuran yang tepat karena pemanfaatan sumber daya dinilai berdasarkan alternative penggunaan terbaiknya.
Gambar B.1 Surplus Konsumen, Surplus Produsen, & Rente Sumber Daya
- C. Barang Publik & Eksternalitas[2]
- Non-rivalry atau non-divisible. Konsumsi seseorang terhadap barang publik tidak akan mengurangi konsumsi orang lain terhadap barang yang sama.
- Non-exclucable. Sulit untuk melarang pihak lain untuk mengkonsumsi barang yang sama.
- Eksternalitas: dampak (positif atau negatif) atau net cost atau benefit, dari tindakan satu pihak terhadap pihak lain.
- Terjadi jika kegiatan produksi atau konsumsi dari satu pihak mempengaruhi utilitas (kegunaan) dari pihak lain secara tidak diinginkan, dan pihak pembuat eksternalitas tidak menyediakan kompensasi terhadap pihak yang terkena dampak.[3]
Eksternalitas dipahami sebagai dampak (positif atau negatif), atau dalam bahasa formal ekonomi sebagai net cost atau benefit, dari tindakan satu pihak terhadap pihak lain. Dapat dijelaskan lebih spesifik bahwa eksternalitas terjadi jika kegiatan produksi atau konsumsi dari satu pihak mempengaruhi kegunaan dari pihak lain secara tidak diinginkan, dan pihak pembuat eksternalitas tidak menyediakan kompensasi terhadap pihak yang terkena dampak.
Gambar B.1 Tipologi Eksternalitas
- D. SDA Terbarukan & Tidak Terbarukan
- 1. Sumber Daya Tidak Terbarukan
Gambar C.1. Kurva Permintaan Model Dua Periode Untuk SDA Tidak Terbarukan
- 2. Sumber Daya Terbarukan: Perikanan
Ikan merupakan salah satu komoditi yang berperan penting dalam kehidupan manusia. Selain sebagai pemenuhan kebutuhan pangan, sumber pendapatan dan penyerapan tenaga kerja, ikan juga merupakan salah satu produk yang memiliki nilai seremonial yang tinggi. Titik tolak pendekatan ekonomi pengelolaan perikanan bermula dengan publikasi tulisan H.S Gordon (1954) yang menyatakan bahwa sumber daya ikan pada umumnya bersifat open class (siapa saja bisa berpartisipasi tanpa harus memiliki sumber daya tersebut).
- 3. Sumber Daya Terbarukan: Kehutanan
Indonesia, wilayah hutan tropisnya terluas ketiga di dunia dengan cadangan minyak, gas alam, emas, tembaga dan mineral lainnya. Terumbu karang dan kehidupan laut memperkaya ke-17.000 pulaunya. Lebih dari itu, Indonesia memiliki tanah dan dan area lautan yang luas, dan kaya dengan berjenis-jenis ekologi. Menempati hampir 1,3 persen dari wilayah bumi, mempunyai kira-kira 10 persen jenis tanaman dan bunga yang ada di dunia, 12 persen jenis binatang menyusui, 17 persen jenis burung, 25 persen jenis ikan, dan 10 persen sisa area hutang tropis, yang kedua setelah Brazil.
Kepulauan Indonesia yang terdiri atas 17,000an pulau, merupakan tempat tinggal bagi flora dan fauna dari dua tipe yang berbeda asal usulnya. Bagian barat merupakan kawasan Indo-Malayan, sedang bagian timur termasuk kawasan Pacifik dan Australia. Meski daratannya hanya mencakup 1,3 persen dari seluruh daratan di bumi, Indonesia memiliki hidupan liar flora dan fauna yang spektakuler dan unik. Indonesia juga memiliki keanekaragaman hayati yang mengagumkan: sepuluh persen dari spesies berbunga yang ada didunia, 12 persen dari spesies mamalia dunia, 16 persen dari seluruh spesies reptil dan amphibi, 17 persen dari seluruh spesies burung, dan 25 persen dari semua spesies ikan yang sudah dikenal manusia.[5]
Sebagian besar hutan yang ada di Indonesia adalah hutan hujan tropis, yang tidak saja mengandung kekayaan hayati flora yang beranekaragam, tetapi juga termasuk ekosistem terkaya di dunia sehubungan dengan keanekaan hidupan liarnya. Indonesia memiliki kawasan hutan hujan tropis yang terbesar di Asia-Pasifik yaitu diperkirakan 1,148,400 kilometer persegi. Hutan Indonesia termasuk yang paling kaya keaneka ragaman hayati di dunia. Hutan Indonesia dikenal sebagai hutan yang paling kaya akan spesies palm (447 spesies, 225 diantaranya tidak terdapat dibagian dunia yang lain), lebih dari 400 spesies dipterocarp (jenis kayu komersial yang paling berharga di Asia tenggara), dan diperkirakan mengandung 25,000 spesies tumbuhan berbunga. Indonesia juga sangat kaya akan hidupan liar: terkaya didunia untuk mamalia (515 spesies, 36% diantaranya endemik), terkaya akan kupu-kupu swalowtail (121 spesies, 44% diantaranya endemik), ketiga terkaya didunia akan reptil (ada lebih dari 600 spesies), keempat terkaya akan burung (1519 spesies, 28% diantaranya endemik) kelima untuk amphibi (270 spesies), dan ketujuh untuk tumbuhan berbunga.[6]
- 4. Sumber Daya Air
Model Ekonomi SD Air Bawah Tanah
Groundwater jika pada saat sumber daya tersebut tidak dimiliki dengan jelas, ia akan menjadi common pool di mana setiap pengguna sumber daya air meyakini bahwa ekstraksi yang dilakukannya tidak akan mempengaruhi stok sumber daya air, sehingga deplesi dari sumber daya air dinilai tanpa harga (zero price). Walaupun demikian jika hal ini tidak diatur ekstraksi akan terlalu besar sehingga menyebabkan ketersediaan air menurun dan menyebabkan dampak ekonomi dalam 3 hal:[7]
- Air bisa menjadi langka
- Air bawah tanah merupakan cadangan saat kemarau.
- Jika air bawah tanah habis maka cost ekstraksi akan meningkat.
Alokasi air merupakan masalah ekonomi untuk menentukan bagaimana suplai air yang tersedia harus dialokasikan kepada pengguna dan calon pengguna. Pengguna air sendiri pada dasarnya dibagi dalam 2 kelompok:
- Konsumtif (RT, industri, pertanian, kehutanan)
- Non Konsumtif.
Tabel 4.1 Kriteria Alokasi SD Air
|
Kriteria
|
Tujuan
|
|
Efisiensi
|
|
|
Equity
|
|
|
Sustainability
|
|
- E. Refleksi Kritis
Pemanfaatan sumber daya alam dan fungsi lingkungannya bukanlah tidak ada masalah. Semakin lama, terjadi penurunan kualitas lingkungan dan sumber daya alam yang ada di Indonesia. Bila di telaah penurunan kualitas lingkungan dan sumber daya alam disebabkan oleh dua faktor yaitu disebakan oleh meningkatnya kebutuhan ekonomi (economic requirement) dan gagalnya kebijakan yang diterapkan (policy failure). Peningkatan kebutuhan yang tak terbatas sering membuat tekanan yang besar terhadap lingkungan dan sumberdaya yang ada, suatu contoh kebutuhan akan ketersediaan kayu yang memaksa kita untuk menebang hutan secara berlebihan dan terjadinya tebang terlarang (illegal loging), kebutuhan transportasi untuk mobilitas dan mendukung laju perekonomian juga sering menimbulkan dampak terhadap kerusakan lingkungan seperti pencemaran udara, dan kejadian dilaut dimana akibat kebutuhan ekonomi memaksa nelayan melakukan kegiatan tangkap berlebih (over fishing). oleh karena itu percepatan pembangunan ekonomi sudah selayaknya di barengi dengan ketersediaan sumber daya dan lingkungan yang lestari.
REFERENSI:
Bahtiar. R. 2006. Bencana Alam dan Hari Bumi. www. tempointeraktif.com
Fauzi. A. 2004. Ekonomi Sumber Daya Alam dan Lingkungan. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Hartwick, J.M. 1998. The Economics of Natural Resource Use. Addison-Wesley Educational Publisher Inc. Reading, Massachussetts
Muttaqin, Hidayatullah. 2004. Ada Apa denga Pengelolaan Sumber Daya Alam Indonesia. dalam www.jurnal-ekonomi.org.
Nahib, Irmadi. 2006. Pengelolaan Sumber Daya Tidak Pulih Berbasis Ekonomi Sumber Daya (studi Kasus: Tambang Minyak Blok Cepu). dalam Jurnal Ilmiah Geomatika Vol. 12 No. 1 Agustus 2006. Pusat Survey Sumber Daya Alam laut. BAKOSURTANAL.
Neher, P. 1990. Natural Resources Economics: Conservation and Exploitation. Cambridge: Cambridge University Press.
Rudyanto, Arifin. 2004. Kerangka Kerja Sama dalam Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut. Disampaikan pada Sosialisasi Nasional MFCDP, 22 September 2004.
Srijanti, A. Rahman H.I, & Purwanto S.K. 2008. Etika Berwarganegara, Pendidikan Kewarganegaraan untuk Perguruan Tinggi. Jakarta: Penerbit Karya Salemba Empat.
[1] Akhmad Fauzi. 2004. Ekonomi Sumber Daya Alam dan Lingkungan. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. Hal 12.
[2] Referensi Tambahan: J.M. Hartwick. 1998. The Economics of Natural Resource Use. Addison-Wesley Educational Publisher Inc. Reading, Massachussetts. Hal 156.
[3] Notulensi Kuliah: Ekonomi Sumber Daya Alam dan Lingkungan Oleh dosen pengampu: Drs. Chotib M.Si.
[4] Irmadi Nahib. 2006. Pengelolaan Sumber Daya Tidak Pulih Berbasis Ekonomi Sumber Daya (studi Kasus: Tambang Minyak Blok Cepu). dalam Jurnal Ilmiah Geomatika Vol. 12 No. 1 Agustus 2006. Pusat Survey Sumber Daya Alam laut. BAKOSURTANAL. Hal: 33.
[5] Muttaqin, Hidayatullah. 2004. Ada Apa denga Pengelolaan Sumber Daya Alam Indonesia. dalam www.jurnal-ekonomi.org. Diakses 1 November 2011.
[6] Ibid.
[7] P. Neher. 1990. Natural Resources Economics: Conservation and Exploitation. Cambridge: Cambridge University Press. Hal 235
sumber : http://filsufgaul.wordpress.com/2012/03/03/sumber-daya-alam/
sumber : http://filsufgaul.wordpress.com/2012/03/03/sumber-daya-alam/
No comments:
Post a Comment